Kawan, kalian perokok? atau malah kalian benci
rokok/perokok?. Kali ini kita akan melihat dari sudut pandang bukan perokok
atau perokok pasif, “Bisakah perokok menjadi orang bijak (saat merokok)?,” akan
coba kita bahas.
Ya, tak sedikit orang yang merokok dan banyak juga
yang tidak merokok. Tapi seringkali perokok mengabaikan saudaranya yang tidak
merokok, merokok seenaknya saja dimanapun kapanpun, meski di sekelilingnya ada
bukan perokok, tapi dia acuh tak acuh, main hisap rokok saja. Padahal perokok
pasif lebih berisiko dibanding perokok itu sendiri, hai para penggemar rokok, tegakah kau menyakiti saudara-saudaramu?,
tentu tidak.
Kalian para fans
rokok bisa menjadi orang bijak kok,
kalau ada yang bertanya “Apa mungkin?,” mungkin sekali. Bagaimana caranya?, saya
yakin kalian pasti punya hati nurani, di hati kalian ada kebaikan, ada rasa
peduli. Manfaatkanlah potensimu ini, merokoklah di tempat yang tidak ada
perokok, tidak ada anak kecil, tidak ada bayi, setelah itu buanglah putung
rokok pada tempatnya.
Cukup itu? tidak!!, pasti kalian bisa
hitung-hitungan. Coba saja kalian sadari, merokok minimal butuh Rp10.000 atau
lebih setiap harinya. Dikali seminggu, sebulan, setahun, sepanjang merokok, wah pastinya jumlah yang banyak donk. Coba kita hitung dalam setahun, hasilnya 365 x Rp10.000 = Rp3.650.000
(kost saya pertahun juga tidak ada separuhnya), ini baru pertahun dan perorang loh. Jumlah yang sangat besar, bisa
dimanfaatkan untuk pendidikan anak, keluarga atau saudara. Untuk kurban kambing juga masih ada sisa. Kalau mau hidup lebih
sehat, lebih hemat, lebih bijak, hidup lebih bermanfaat, berhentilah merokok.
Sayangi dirimu dan saudaramu.
Karangwangkal,
Rabu Pon, 11 Rajab 1437 H / 18
Mei 2016 M
Tag: perokok bijak, merokok berbahaya,
rokok racun, merokok pemborosan, berhenti merokok