Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2022

Pendidikan Jalan Mendapat Ridho Allah SwT

Mencerdaskan kehidupan bangsa, itulah salah satu amanat UUD 1945 RI yang dominan terngiyang-ngiyang dalam benak sejak saya kecil. Pendidikan dasar 9 tahun saya tempuh di sekolah negeri membuat jiwa nasionalis tumbuh, termasuk menjadikan UUD 1945 RI cara pandang hidup. Kemudian SMA, saya melanjutkan ke sekolah Islam yaitu SMA Muhammadiyah, di sekolah tersebut nasionalisme tidak pudar justru semakin dikuatkan dengan nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadits/Asunnah Makbulah.



Islam juga memuliakan siapapun yang ada dalam sistem pendidikan. Hal tersebut menguatkan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa karena dengan demikian pendidikan bernilai abadi sampai ke alam akhirat, sehingga dapat mengantarkan siapapun mendapat Ridho Allah SwT, bukan sekedar mendapat kebaikan dunia.


Maka bergabung di dunia pendidikan menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi saya karena mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekedar amanat negara tetapi juga kewajiban sebagai muslim. Waktu demi waktu terus saya mencoba ada di lingkungan pendidikan, meski sesekali secara pekerjaan pernah keluar dari dunia pendidikan. Niat hati mencerdaskan kehidupan bangsa dengan Kuasa Allah SwT kesempatan bergabung dengan dunia pendidikan selalu ada dan saya terima dengan penuh syukur serta semangat terus belajar supaya cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa bisa diraih setahap demi setahap. Aamiin yaa rabbal 'aalamiin. (Viqi)


Masjid Al Jihad Banjarmasin 16.32 WITA

Senin Wage, 9 Safar 1444 H / 5 September 2022 M

Selasa, 22 Mei 2018

Berorganisasi Membuat Remaja Berkarakter and Anti Pacaran


Setiap momen silaturahim tak jarang muncul pertanyaan untukku, “Masih lajang atau sudah menikah?”, kadang juga “Kapan nikah?”, atau “sudah punya calon Mas?” dan pertanyaan sejenis lainnya. Bahkan ada yang menawarkan untuk jadi menantu dia, entah itu serius atau gurauan karena aku yakini serius atau gurauan itu sama saja dalam hal menawarkan/meminta perjodohan. Allahu akbar, itulah hidup anak manusia yang usianya sudah kepala dua. Nikmaaat...sekali rasanya, iya serius ! nikmat. Kenapa nikmat.....?
Ini pengalamanku, aku menganggap semua pertanyaan itu nikmat karena aku yakin pernikahan itu ibadah dan pertanyaan itu mengingatkan untuk melaksanakan ibadah yang besar sekali pahalanya, ibadah yang menyempurnakan agama. SubhaanaLLAAH...Allahu Akbar. Bagiku pernikahan itu sangat mulia karena itu perintah Allah SwT dan Rasul SAW.

Remaja Tangguh


Ya, pernikahan itu mulia, maka untuk menuju pernikahan harus dengan cara yang mulia. Salah satu cara menyiapkannya dengan tahu ilmunya dan aktualisasi diri mengikuti organisasi kemasyarakatan baik berbasis agama mau pun umum. Kenapa selain harus tahu ilmunya kita juga aktif di organisasi...? bagiku organisasi itu juga rumah tangga, setiap rumah tangga pasti punya lika-liku. Kalau kita terbiasa punya solusi dari lika-liku organisasi, insyaALLAH kita juga punya banyak solusi untuk menghadapi bahtera rumah tangga yang sesungguhnya. Selain itu juga dalam berorganisasi membuat karakter kita lebih matang, stabil dan lebih baik serta penting juga.....dengan aktif berorganisasi tentu kita banyak kegiatan, sehingga peluang kita untuk berpacaran menjadi sedikit atau bahkan tidak ada. So, berorganisasi jadi opsi bagus buat kamu untuk menghindari pacaran, malah kita jadi punya banyak kegiatan produktif dan positif and juga kita bisa kenal karakter banyak orang.
Ayat-ayat terkait diantaranya: silakan baca QS. An Nuur (24) dan terjemahnya Ayat 30-33, untuk ayat 26 Allah berfirman yang artinya “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. Inilah kepastian Allah, kita baik pasti dapatnya yang baik. So, jadilah baik salah satunya dengan berorganisasi, maka jodoh kita pun baik. Wallahu ‘alam bishowab

Kretek 23.02
Senin Manis, 6 Ramadhan 1439 H / 21 Mei 2018 M

Selasa, 28 November 2017

Mengenal IMM UNSOED

Sejarah dan Identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED

Sebagai sebuah organisasi yang selalu berusaha mempelopori gerakan-gerakan organisasi kepemudaan yang lain, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) selalu berpijak pada sebuah sejarah yang membuat IMM ini lahir, sebuah sejarah yang seharusnya selalu menjadi cambuk ketika para kader Ikatan sudah mulai kehilangan kepeloporannya.
Sebuah identitas yang bisa membedakan IMM dari organisasi-organisasi lain di saat organisasi-organisasi kepemudaan yang lain mulai terperosok pada jerat kekuasaan dan politik vertikal, IMM tetap bersih dan selalu berusaha bersih.


Sejarah Singkat Berdirinya IMM di UNSOED
Pada tahun 1992 sebagian Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED mulai merintis berdirinya IMM di kampusnya ini. Pada dasarnya IMM didirikan atas dua faktor integral, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal bersumber dari kondisi Mahasiswa Muhammadiyah sendiri yaitu belum adanya wadah khusus di kampus untuk berproses dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan aspek eksternal disebabkan kondisi di luar Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu realitas Mahasiswa Islam dan Mahasiswa UNSOED pada umumnya pada saat itu.


IMM UNSOED, Muhammadiyah dan Ortom
IMM merupakan kekuatan besar dalam setiap momentum di kampus dan sekitarnya, namun saat awal berdiri IMM di UNSOED dapat dikatakan berjalan sendiri tanpa dukungan dari Muhammadiyah maupun ortom. Tahun 2010-an IMM UNSOED mencoba berkomunikasi dengan Civitas Akademika UNSOED yang berlatar belakang Muhammadiyah, PRM & PCM di Purwokerto Utara, PDM serta Ortom. Hingga bisa melaksanakan Silaturahim sekaligus Tabligh Akbar yang pertama pada 2012 dengan pembicara Ayahanda Dahlan Rais (PPM), dilanjut 2013 Ayahanda Abdul Mu’thi (PPM),  2014 Prof. Totok Agung (Ketua LPPM UNSOED dari Muhammadiyah), kemudian 2016 Ayahanda Tafsir (Ketua PWM Jawa Tengah) dan tahun ini 2017 Ayahanda Asep Ketua Majelis Pendidikan Kader PPM. Setelah agenda tersebut, IMM UNSOED lebih dikenal baik di kampus maupun di luar kampus khususnya oleh Muhammadiyah dan Ortom.
Sampai 2017 tercatat ada lebih dari 100 Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED, dan dari dosen serta karyawan tercatat lebih dari 40 orang. Dengan jumlah yang cukup banyak perlu sinergisitas untuk dakwah amar ma’ruf nahi munkar, sehingga acara silaturahim dan tabligh akbar menjadi momentum yang sangat penting.


Pada Jum’at Manis, 6 Rabiul Awwal 1437 H bertepatan 18 Desember 2015 M melalui rapat pleno ditetapkan Visi dan Misi IMM Soedirman

VISI
            IMM Soedirman: Berkarakter Profetik, Berkualitas dan Progresif untuk Mencapai Tujuan IMM*.

MISI
1.      Reaktualisasi nilai-nilai keislaman sebagai sendi kehidupan.
2.  Meningkatkan kualitas kinerja yang harmonis dan menumbuhkan kesadaran berjuang dengan semangat pengabdian dan pembaharuan.
3.      Menciptakan iklim budaya keilmuan dalam bingkai kearifan lokal.
4.   Turut berperan aktif dan kritis terhadap masalah sosial masyarakat serta secara proaktif senantiasa mengambil peran strategis.
5.      Memfasilitasi pengembangan minat dan bakat.
6.      Mengenalkan dan mengembangkan jiwa berwirausaha sebagai modal awal hidup mandiri.
7.      Menumbuhkan dan mengembangkan jiwa kepemimpinan
8.      Meningkatkan tertib administrasi dalam rangka tertib organisasi




IMM Soedirman UNSOED

*Catatan:
1.      Seperti yang dirumuskan dalam AD IMM, tujuan didirikannya IMM adalah: “Mengusahakan terbentuknya akademisi muslim yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”.

2.      AD Muhammadiyah BAB III Pasal 6:
Maksud dan Tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Sabtu, 05 November 2016

4 November 2016: Haq itu Haq, Bathil itu Bathil


Allahu akbar !!
Allahu akbar !!
Allahu akbar !!

Katakan haq, pada yang haq !!
Katakan bathil, untuk yang bathil !!

Jika nama kita dihina,
Kita pasti tak terima.
Jika Al-Qur’an dihina,
Kita wajib membela.
            Setuju !!

Jika rakyat bersalah,
dia mendapat hukum.
Gubernur adalah dari rakyat,
Jika ia melanggar hukum,
maka layak dihukum.
            Setuju !!

Penista presiden,
dia dihukum dengan tegas,
maka penista agama,
layak dihukum dengan tegas.
            Setuju !!

Hukum adalah hukum,
Tak memandang siapa dia,
Keadilan harus ditegakkan !!

Allahu akbar !!

Purwokerto, pagi Jum’at Pon
4 Shafar 1438 H / 4 November 2016 M


Viqi Nursekha

Peserta Aksi Damai Bela Islam FUI Banyumas

Senin, 31 Oktober 2016

Islam itu Mudah dan Mencerahkan


“Berbudaya pun mesti dengan keadaban mulia dan tidak berperangai serba boleh (1). Agama harus menjadi pembeda dalam menampilkan perilaku uswah hasanah yang melahirkan peradaban mulia (2). Itulah beragama yang mencerahkan !”, penutup tulisan Dr. Haedar Nashir*) yang bertajuk “Agama Sumber Pencerahan”**)

Ketika kita melaksanakan (1) kadang ada yang menganggap kita kaku, meski itu tidak sepenuhnya benar tapi kita tetap harus muhasabah diri karena boleh jadi orang yang berinteraksi dengan kita belum paham dengan yang diyakini dan diamalkan kita. Tak perlu marah-marah apalagi sampai mendzolimi orang yang menganggap kita kaku, nasihatilah ia dan jika ia menasihati kita, terimalah, bukankah salah satu orang yang beruntung adalah yang istiqomah dalam nasihat-menasihati (lihat QS. Al ‘Ashr).

Tentu sebagai umat beragama kita setuju dengan (2), setiap langkah kita tentu berbeda karena orientasi kita adalah ridho Allah Ta’ala. Khoir (baik menurut Allah) serta ma’ruf (baik menurut kebiasaan) menjadi dasar kita dalam bersikap dan menampilkan perilaku uswah hasanah / memberikan keteladanan dengan mengutamakan ridho Allah.

Pernah saya mendapat cerita, jika helm tidak pas dengan kepala kita maka yang diperbaiki bukan ukuran kepala kita tetapi ukuran helm tersebut, jika ada syari’at Islam yang menurut kita tidak sesuai maka jangan rubah syari’at itu tetapi perbaikilah penafsiran kita terhadap syari’at tersebut. Karena Islam adalah rahmat untuk seluruh alam, Islam itu mudah, Islam agama pencerahan, tinggal bagaimana kita dalam berislam. Semoga kita istiqomah dalam menjalankan Islam, Allah hujamkan iman yang kokoh di qolbu dan semoga ridho Allah selalu atas kita.

*)Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

**)dalam republika.co.id

Selasa, 14 Juni 2016

Renungan Ramadhan: Pertanyaan Ini Membuat Mufti Saudi Menangis

_20160611_105145

Dalam acara live di salah satu saluran TV, seperti yang diunggah dalam Islamic Video, Syaikh (seorang Mufti Saudi) yang sedang mengisi kajian pada acara tersebut ditanya oleh seseorang dari Somalia: “Apakah puasa saya diterima (sah) jika saya tidak memiliki makanan untuk sahur atau ifthar (berbuka)?”. Seketika Mufti itu menangis karena mendengar pertanyaan tersebut.
“Saudaraku, bagaimana dengan kita?
Beruntung sekali kita, begitu mudah mendapatkan makanan, baik dibulan Ramadhan maupun dibulan lainnya. Begitu banyak hidangan yang tersaji di atas meja makan kita ketika berbuka maupun santap sahur?! Ada nasi, manisan, minuman, buah dan lauk pauk lainnya, padahal ada saudara kita seagama, saudara semuslim yang untuk berbuka dan santap sahur saja masih kesulitan untuk mendapatkan sesuap nasi atau sebutir kurma.
Sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang besar ini? atau malah kita lalai dengan nikmat ini?!
 “Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu” (QS.Ibrahim:34),
“Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan” (QS.Ar-Rahman:13).
Tidakkah kita bersedih dengan kondisi saudara kita yang kekurangan? atau justru kita malah hidup dalam berlebih-lebihan?
Jangankan membantu materi, berdo’a untuk kebaikan merekapun jarang kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kita.
Bukankah Nabi kita yang penyayang, Rasulullah Sholallaahu ‘alayhi wassallaam telah bersabda:“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak mendzalimi ataupun mencelakakannya. BARANGSIAPA YANG BERUSAHA MENCUKUPI KEBUTUHAN SAUDARANYA MAKA ALLAH AKAN MENCUKUPI KEBUTUHANNYA.”
Viqi Nursekha (UNSOED)

Source: http://www.muslimdaily.net/artikel/49261.html

Kamis, 02 Juni 2016

Ki Bagus Hadikusuma 

Pahlawan perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia ini dilahirkan di kampung Kauman Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Akhir 1038 Hijriyah. Ia putra ketiga dari lima bersaudara Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta. Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di Kauman. Setelah tamat dari ‘Sekolah Ongko Loro’ (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqh dan tasawuf.
Dalam usia 20 tahun Ki Bagus menikah dengan Siti Fatmah (putri Raden Haji Suhud) dan memperoleh enam anak. Salah seorang di antaranya ialah Djarnawi Hadikusumo, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi orang nomor satu di Parmusi. Setelah Fatmah meninggal, ia menikah lagi dengan seorang wanita pengusaha dari Yogyakarta bernama Mursilah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Ki Bagus kemudian menikah lagi dengan Siti Fatimah (juga seorang pengusaha) setelah istri keduanya meninggal. Dari istri ketiga ini ia memperoleh lima anak.
Sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD) ditambah mengaji dan besar di pesantren. Namun, berkat kerajinan dan ketekunan mempelajari kitab-kitab terkenal akhirnya ia menjadi orang alim, mubaligh dan pemimpin ummat. Ia merupakan pemimpin Muhammadiyah yang besar andilnya dalam penyusunan Muqadimah UUD 1945, karena ia termasuk anggota Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia (PPKI). Peran Ki Bagus sangat besar dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu disetujui oleh semua anggota PPKI.
Secara formal, selain kegiatan tabligh, Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP Muham­madiyah (1942-1953). Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan sedemikian rupa sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, pokok-pokok pikiran itu menjadi Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Muqaddimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini menginspirasi sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya. HAMKA, misalnya, mendapatkan inspirasi dari muqaddimah tersebut untuk merumuskan dua landasan idiil Muhammadiyah, yaitu Matan Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.
Ki Bagus juga sangat produktif dalam menuliskan buah pikirannya. Buku karyanya antara lain Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam(1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954). Dari buku-buku karyanya tersebut tercer­min komitmennya terhadap etika dan bahkan juga syariat Islam. Dari komitmen tersebut, Ki Bagus adalah termasuk seorang tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk pelembagaan Islam.
   Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alasan-alasan ideologi, politis, dan juga intelektual. Ini nampak dalam upayanya memperkokoh eksistensi hukum Islam di Indonesia ketika ia dan beberapa ulama lainnya terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama (priesterraden commisse). Hasil penting sidang-sidang komisi ini ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum Islam. Akan tetapi Ki Bagus dikecewakan oleh sikap politik pemerintah kolonial yang didukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan seluruh keputusan penting tentang diberlakukannya hukum Islam untuk kemudian diganti dengan hukum adat melalui penetapan Ordonansi 1931. Kekecewaannya itu ia ungkap kembali saat menyampaikan pidato di depan Sidang BPUKPKI.
   Munculnya Ki Bagus Hadikusumo sebagai Ketua PB Muhammadiyah adalah pada saat terjadi pergo­lakan politik internasional, yaitu pecahnya perang dunia II. Kendati Ki Bagus Hadikusuma menyatakan ketidaksediaannya sebagai Wakil Ketua PB Muham­madiyah ketika diminta oleh Mas Mansur pada Kongres ke-26 tahun 1937 di Yogyakarta, ia tetap tidak bisa mengelak memenuhi panggilan tugas untuk menjadi Ketua PB Muhammadiyah ketika Mas Mansur dipaksa menjadi anggota pengurus Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di Jakarta pada tahun 1942. Apalagi dalam situasi di bawah penjajahan Jepang, Muhammadyah memerlukan tokoh kuat dan patriotik. Ki Bagus Hadikusumo berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam, untuk memerintahkan ummat Islam dan warga Muhammadiyah melakukan upacara kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari.
   Ki Bagus Hadikusumo menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah selama 11 tahun (1942-1953) dan wafat pada usia 64 tahun. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.


sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/content-160-det-ki-bagus-hadikusuma.html

Rabu, 18 Mei 2016

Sedikit Bukan Berarti Sepele

Perihatin saya melihat teman-teman mahasiswa saat makan di warung dan masih ada sisa di piringnya, terutama menyisakan (yang kelihatannya hanya) butiran nasi. Apakah mereka tidak memikirkan proses bahan makanan menjadi hidangan, hidangan di meja yang siap santap saja. Apakah mereka tidak memikirkan saudara-saudara mereka yang kelaparan? Kekurangan gizi? Tega sekali orang-orang ini, para pemakan yang tidak pernah habis. Mubadzir.

Dalam benakku, “Mahasiswa saja begitu, apalagi bukan mahasiswa”. Coba hitung berapa banyak orang yang menyisakan nasi di piringnya? perorang berapa gram?. Dikalikan setiap hari, minggu, setahun, seumur hidup, pastinya fantastis. Jumlah penduduk Indonesia mencapai 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta) jiwa, ambil saja 80 juta (kurang dari 1/3) yang setiap makan menyisakan nasi, taruhlah menyisakan 1 gram setiap makan (padahal kadang lebih). Mari kita hitung untuk waktu sehari, seminggu, sebulan dan setahun.
Sehari, 1 gram x 3 kali sehari x 80.000.000 orang = 240.000.000 gram nasi = 240 Ton nasi.
Seminggu, 240 Ton x 7 = 1.680 Ton nasi.
Sebulan, 240 Ton x 30 = 7.200 Ton nasi.
Setahun, 240 Ton x 365 = 87.600 Ton nasi.
Kita bagi dengan setiap orang sekali makan rata-rata 2 ons nasi, ( 1 Ton = 10.000 ons)
Sehari, 2.400.000 : 2 = 4.800.000 jatah makan
Seminggu, 4.800.000 x 7 = 33.600.000 jatah makan
Sebulan, 4.800.000 x 30 = 144.000.000 jatah makan
Setahun, 4.800.000 x 365 = 1.752.000.000 jatah makan.
FANTASTIS!!, yang kelihatannya hanya menyisakan 1 gram saja perorang setiap kali makan, setelah kita hitung, padahal dalam sehari membuang jatah makan 4,8 juta orang sampai dalam satu tahun membuang jatah makan 1.752.000.000 orang (hampir 2 Milyar). Mubadzir. Padahal saudara-saudara kita masih banyak yang kelaparan, kekurangan gizi, apalagi untuk mendapatkan sepiring mendapatkan sesuap nasi saja susahnya minta ampun.

Setelah kita tahu betapa banyak nasi yang dibuang, nasi yang mubadzir, marilah kita makan ambil secukupnya supaya habis. Meski kelihatannya sepele, makan menyisakan 1 gram nasi saja tapi dampaknya begitu fantastis. Di hadapan Allah Tuhan Pemberi Rizki, tidak ada yang sepele, semua ada dampaknya (lihat QS. Az Zalzalah : 7-8). Sedikit Bukan Berarti Sepele.


Karangwangkal,
Rabu Pon, 11 Rajab 1437 H / 18 Mei 2016 M



Tag: QS. Az Zalzalah : 7-8, kelaparan, kekurangan gizi, mubadzir, penduduk Indonesia

Selasa, 17 Mei 2016

Jodoh? Jangan Khawatir... Jodoh Bukan Siapa Cepat Dia Dapat


Hay... Para Single,
Kalian semua luar biasa....
Bagaimana kabar nich? Saya harap kalian tidak merasa galau, ketinggalan atau minder karena nggak punya pacar atau someone. PeDe aja kali,,, nikmati harimu, manfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar, berkarir dan berkarya, juga untuk beribadah semaksimal mungkin, karena remaja yang hatinya terpaut dengan masjid (ibadahnya bagus-pen) akan mendapat naungan Allah Sang Rabb Mahacinta saat nanti tidak ada naungan selain dari-Nya. Pengin donk pastinya.

Ngomong-ngomong jodoh nich, ehm ehm.. kamu lagi suka sama si dia, kamu lagi naksir si doi, kalau belum siap untuk membina rumah tangga, nggak perlu galau-galau, fokus saja pada kuliahmu sekarang, fokus saja pada karirmu sekarang. Lah kalau nggak diungkapkan sekarang, nanti direbut orang, nanti keduluan yang lain donk, nanti... dan bla-bla-bla-bla. Tenang.., jemput jodohmu dengan persiapan dirimu, terutama benahi agama dan akhlakmu. Allah sudah menjanjikan yang baik jodohnya yang baik, yang keji dengan yang keji (lihat QS. An-Nur: 26). Kalau kamu baik pasti jodohmu yang baik, kalau kamu biasa-biasa saja jodohmu juga yang biasa-biasa saja.

So, pantaskan dirimu untuk berjodoh dengannya, dengan yang baik (agamanya-pen). Karena Jodoh Bukan Siapa Cepat Dia Dapat tapi Siapa Pantas Dia Tepat.




Senin Manis di Karangwangkal,
9 Rajab 1437 H / 16 Mei 2016
Viqi Nursekha


Tag: Jodoh, Remaja, Pacaran dilarang, An-Nur:26

JATUH CINTA = JATUH dari POHON KELAPA


Hai... sahabat!!!:-)
Gimana puasa’y??? Lancarkan..?! mudah2n puasa ini membekaskan ketaqwaan dlm diri qT, aamiin...
Sahabat pEsbukerS,, wabil kHusus yg lg Falling in lJve.
Langsung aja ya.. q dPt wejangan dr Pak Guru kalo
“Jatuh Cinta = Jatuh dari Pohon Kelapa” au!! Sakit. T_T) J
Yaya.. kaLo qT Jatuh dr pohon kLapa kan sakit tuh, meski awalnya qT senEng cZ mau dpt ‘dawegan’.
begitupuN kLo qT jatuh cinta, memAng awalnya qT senen9 tP kLo ditolak or oRang yaN9 qT inceR terNyata ng9a ngrasain yg qT rasa/si-dia ngga cinta sama qT atau udah ada yg lain di hatinya..
gimana tuh? (hmm..dipanggiLin dokter cinta apa yah ???)
Ok, biar qT ngga sakit kayak jatuh daRi pohoN keLapa tenTunya qT haruS bisa menyikapinya.
Jatuh cinta haruS tepat, jan9an haNya cimon,, cZ yang boLeh cimon yaa.. cuma simon. do You agRee ??? Hehe,,
boLeh lah qT jatuh cintA sama Lawan jENis, itu normal kok.
taPi kaLo qT belum siap jan9an brani-braNinya nembak saat itu ju9a.
Sabaar... tung9u waktu y9 tepat, qt minta petunjuk AllAh Ta’ala.
Jan9an khawatir kaLo qT ngga nembak sekaran9 “jangan-jangan ada yg duluan” .
Yakinlah janji AllAh,, Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula, begitu juga seBaliknya. (s0Rry jadinya ceramah J )
oK. Bagi temaN2 peLajar,, jangaN duLu main cinta. Marilah beLajar yan9 suN9guh-sungguh, cZ qT Lagi diTunggu untuk menjadi kholifah/pemimpin yan9 biSa meMbawa dunia menjadi lebih baik, baldatun Thoyyibatun wa Rabbun ghafur.
Mudah-mudahan berManfaat. Maturnuwun J
wasSalaamu’alaikum..


Kretek, Ramadhan 1434 H (2012 M)
Viqi Nursekha



Tag: Jatuh Cinta, Remaja, Cimon, Cinta Monyet, cinta SMA, anak SMA, nembak

Sukses Dunia Akhhirat Lewat Kuliner, Kenapa Tidak?


Seorang pemuda yang terlihat energik berdiri di depan outlet. Semburat senyum nampak terlihat jelas kala kami menyapanya. Wajahnya selalu tampak gembira, ramah tamah menyambut tamu yang datang. Ya, menyambut kami berempat dari MuslimDaily.Net , kamipun langsung dipersilakan duduk di salah-satu tempat duduk yang terbuat dari kayu yang dicat warna natural.
Pemuda bernama Junaidi, yang lebih akrab dipanggil “Bang Jo” Dia adalah seoranag CEO dan founder dari warung makan Ayam Kepruk di jalan H.Madrani Purwokerto. Seorang mahasiswa aktif dari Fakultas Peternakan Unsoed Purwokerto. Statusnya sebagai mahasiswa, tidak menghalangi untuk menjadi seorang pengusaha.
Bang Jo yang sejak SMP telah mengasah jiwa pengusahanya dengan menjual berbagai macam properti bersama saudaranya, telah membentuk pribadinya menjadi seorang pengusaha yang gigih dan pantang menyerah. 
Warung makan Ayam Kepruk yang berdiri kurang lebih hampir satu tahun ini, telah memiliki 8-12 pegawai, yang setiap harinya buka dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Di warungnya ini, menyediakan berbagai macam makanan olahan yang berbahan dasar  ayam, jamur serta makanan lain.
Semangatnya dalam menjalani bisnis ini dibarengi dengan semangatnya dalam mengamalkan nilai-nilai Islam. Seorang pemuda ini sangat mengedepankan prisip-prinsip kehalalan dalam melakukan usaha. Dimana dalam memulai usahanya ini, pemuda ini memastikan bahwa modal yang diperoleh adalah modal yang halal. Kemudian juga, dalam mendapatkan hingga memproses bahan baku serta penyajiannya harus dipastikan kehalalannya. Karena pemuda ini memang memiliki motto hidup “Sukses Dunia Akhirat”, sehingga benar-benar tidak ingin usahanya ini malah menjadikan dia celaka nanti di akhirat.
Selain itu pula, pemuda ini memiliki semangat untuk menyajikan makanan yang halalan thoyyiban bagi para konsumen. Hal ini dijamin dengan mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI.
Usaha yang dimulai hanya dengan modal 3 juta ini telah berkembang menjadi sebuah usaha yang telah memiliki asset senilai 150 juta serta menghasilkan omset sampai 4jt tiap hari. Dalam menjalani usahanya, Bang Jo dibantu oleh seorang temannya yang bernama Awal. Mereka berdua bekerjasama dalam mengelola warung Ayam Kepruk.
Kendala yang dihadapi selama menjalani bisnis kuliner di Kota Satria ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Bisnis makanan bak jamur di musim hujan. Semua berlomba-lomba menginvestasikan dananya untuk bisnis ini. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang cukup berat untuk dihadapi. Walaupun begitu dengan motto kerja “Bergerak dan Bergerak”, Bang Jo selalu melakukan perbaikan dari waktu kewaktu, mulai dari perbaikan layanan serta kualitas produk hingga promosi yang massif dan menarik. Sehingga usaha Bang Jo ini tidak kalah dengan pesaing-pesaing bisnisnya.
“Selalulah bergerak dan bergerak untuk memperbaiki usaha, jangan sampai kita diam di tempat, karena kita akan tertinggal dengan pesaing bisnis kita” itulah pesan penutup yang diberikan oleh Bang Jo kepada kita semua untuk terus berjuang untuk menjadi seorang pebisnis di dunia dan di akhirat.


Oleh: Viqi Nursekha, Aleks, Taufik, Al Khawarizmi
7 Rajab 1437 H / 14 Mei 2016 M



Tag: Muslimdaily.net, UKKI UNSOED, Pengusaha Muslim, Pengusaha Muda

Senin, 09 Mei 2016

Tulisan Media Massa Merubah Kehidupan Kita



Tulisan di media massa lebih mudah sampai dan bisa “menggiring” opini masyarakat dibanding tulisan di sebuah buku atau kitab, salah satunya karena media massa lebih sering terbit dibanding buku dan tulisan di media massa lebih mudah dipahami semua lapisan masyarakat. Hal ini bisa berdampak baik maupun justru negatif, yang biasanya pemilik media massa sangat berperan terkait dampak ini. Jika pemiliknya seorang yang mempunyai partai politik (parpol) misalnya dia bisa mengekspos parpolnya itu dengan mudahnya, jika pemiliknya yang konsen ke dakwah maka dakwah yang dia inginkan juga mudah saja di media massa tersebut.
Tentu kita terutama ummat muslim tidak ingin media massa merusak masyarakat dengan apa-apa yang diberitakannya. Selain pemilik tentu penulis juga mempunyai peran yang strategis, untuk itu kita sebagai ummat muslim harus bisa menulis supaya kita bisa berdakwah dengan tulisan terutama melalui media massa karena isi tulisan di media massa bisa merubah kehidupan kita.
Postingan Lama Beranda

About Me

Foto Saya
Bimbel Matematika, Pendampingan ABK, Psikologi Islam, Panahan, Seminar Pendidikan, dan Outbond silakan tinggalkan komentar atau DM di IG @viqinursekha , Youtube: Mas Viqi , Facebook Viqi Nur Sekha
 

Entri Populer

 

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger