Dalam acara live di salah satu saluran TV, seperti yang diunggah dalam Islamic Video, Syaikh (seorang Mufti Saudi) yang sedang mengisi kajian pada acara tersebut ditanya oleh seseorang dari Somalia: “Apakah puasa saya diterima (sah) jika saya tidak memiliki makanan untuk sahur atau ifthar (berbuka)?”. Seketika Mufti itu menangis karena mendengar pertanyaan tersebut.
“Saudaraku, bagaimana dengan kita?
Beruntung sekali kita, begitu mudah mendapatkan makanan, baik dibulan Ramadhan maupun dibulan lainnya. Begitu banyak hidangan yang tersaji di atas meja makan kita ketika berbuka maupun santap sahur?! Ada nasi, manisan, minuman, buah dan lauk pauk lainnya, padahal ada saudara kita seagama, saudara semuslim yang untuk berbuka dan santap sahur saja masih kesulitan untuk mendapatkan sesuap nasi atau sebutir kurma.
Sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang besar ini? atau malah kita lalai dengan nikmat ini?!
“Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu” (QS.Ibrahim:34),
“Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan” (QS.Ar-Rahman:13).
Tidakkah kita bersedih dengan kondisi saudara kita yang kekurangan? atau justru kita malah hidup dalam berlebih-lebihan?
Jangankan membantu materi, berdo’a untuk kebaikan merekapun jarang kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kita.
Bukankah Nabi kita yang penyayang, Rasulullah Sholallaahu ‘alayhi wassallaam telah bersabda:“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak mendzalimi ataupun mencelakakannya. BARANGSIAPA YANG BERUSAHA MENCUKUPI KEBUTUHAN SAUDARANYA MAKA ALLAH AKAN MENCUKUPI KEBUTUHANNYA.”
Viqi Nursekha (UNSOED)
Source: http://www.muslimdaily.net/artikel/49261.html



0 komentar:
Posting Komentar