Tampilkan postingan dengan label Kapita Selekta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapita Selekta. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2022

Pendidikan Jalan Mendapat Ridho Allah SwT

Mencerdaskan kehidupan bangsa, itulah salah satu amanat UUD 1945 RI yang dominan terngiyang-ngiyang dalam benak sejak saya kecil. Pendidikan dasar 9 tahun saya tempuh di sekolah negeri membuat jiwa nasionalis tumbuh, termasuk menjadikan UUD 1945 RI cara pandang hidup. Kemudian SMA, saya melanjutkan ke sekolah Islam yaitu SMA Muhammadiyah, di sekolah tersebut nasionalisme tidak pudar justru semakin dikuatkan dengan nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadits/Asunnah Makbulah.



Islam juga memuliakan siapapun yang ada dalam sistem pendidikan. Hal tersebut menguatkan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa karena dengan demikian pendidikan bernilai abadi sampai ke alam akhirat, sehingga dapat mengantarkan siapapun mendapat Ridho Allah SwT, bukan sekedar mendapat kebaikan dunia.


Maka bergabung di dunia pendidikan menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi saya karena mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekedar amanat negara tetapi juga kewajiban sebagai muslim. Waktu demi waktu terus saya mencoba ada di lingkungan pendidikan, meski sesekali secara pekerjaan pernah keluar dari dunia pendidikan. Niat hati mencerdaskan kehidupan bangsa dengan Kuasa Allah SwT kesempatan bergabung dengan dunia pendidikan selalu ada dan saya terima dengan penuh syukur serta semangat terus belajar supaya cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa bisa diraih setahap demi setahap. Aamiin yaa rabbal 'aalamiin. (Viqi)


Masjid Al Jihad Banjarmasin 16.32 WITA

Senin Wage, 9 Safar 1444 H / 5 September 2022 M

Selasa, 28 November 2017

Mengenal IMM UNSOED

Sejarah dan Identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED

Sebagai sebuah organisasi yang selalu berusaha mempelopori gerakan-gerakan organisasi kepemudaan yang lain, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) selalu berpijak pada sebuah sejarah yang membuat IMM ini lahir, sebuah sejarah yang seharusnya selalu menjadi cambuk ketika para kader Ikatan sudah mulai kehilangan kepeloporannya.
Sebuah identitas yang bisa membedakan IMM dari organisasi-organisasi lain di saat organisasi-organisasi kepemudaan yang lain mulai terperosok pada jerat kekuasaan dan politik vertikal, IMM tetap bersih dan selalu berusaha bersih.


Sejarah Singkat Berdirinya IMM di UNSOED
Pada tahun 1992 sebagian Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED mulai merintis berdirinya IMM di kampusnya ini. Pada dasarnya IMM didirikan atas dua faktor integral, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal bersumber dari kondisi Mahasiswa Muhammadiyah sendiri yaitu belum adanya wadah khusus di kampus untuk berproses dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan aspek eksternal disebabkan kondisi di luar Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu realitas Mahasiswa Islam dan Mahasiswa UNSOED pada umumnya pada saat itu.


IMM UNSOED, Muhammadiyah dan Ortom
IMM merupakan kekuatan besar dalam setiap momentum di kampus dan sekitarnya, namun saat awal berdiri IMM di UNSOED dapat dikatakan berjalan sendiri tanpa dukungan dari Muhammadiyah maupun ortom. Tahun 2010-an IMM UNSOED mencoba berkomunikasi dengan Civitas Akademika UNSOED yang berlatar belakang Muhammadiyah, PRM & PCM di Purwokerto Utara, PDM serta Ortom. Hingga bisa melaksanakan Silaturahim sekaligus Tabligh Akbar yang pertama pada 2012 dengan pembicara Ayahanda Dahlan Rais (PPM), dilanjut 2013 Ayahanda Abdul Mu’thi (PPM),  2014 Prof. Totok Agung (Ketua LPPM UNSOED dari Muhammadiyah), kemudian 2016 Ayahanda Tafsir (Ketua PWM Jawa Tengah) dan tahun ini 2017 Ayahanda Asep Ketua Majelis Pendidikan Kader PPM. Setelah agenda tersebut, IMM UNSOED lebih dikenal baik di kampus maupun di luar kampus khususnya oleh Muhammadiyah dan Ortom.
Sampai 2017 tercatat ada lebih dari 100 Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED, dan dari dosen serta karyawan tercatat lebih dari 40 orang. Dengan jumlah yang cukup banyak perlu sinergisitas untuk dakwah amar ma’ruf nahi munkar, sehingga acara silaturahim dan tabligh akbar menjadi momentum yang sangat penting.


Pada Jum’at Manis, 6 Rabiul Awwal 1437 H bertepatan 18 Desember 2015 M melalui rapat pleno ditetapkan Visi dan Misi IMM Soedirman

VISI
            IMM Soedirman: Berkarakter Profetik, Berkualitas dan Progresif untuk Mencapai Tujuan IMM*.

MISI
1.      Reaktualisasi nilai-nilai keislaman sebagai sendi kehidupan.
2.  Meningkatkan kualitas kinerja yang harmonis dan menumbuhkan kesadaran berjuang dengan semangat pengabdian dan pembaharuan.
3.      Menciptakan iklim budaya keilmuan dalam bingkai kearifan lokal.
4.   Turut berperan aktif dan kritis terhadap masalah sosial masyarakat serta secara proaktif senantiasa mengambil peran strategis.
5.      Memfasilitasi pengembangan minat dan bakat.
6.      Mengenalkan dan mengembangkan jiwa berwirausaha sebagai modal awal hidup mandiri.
7.      Menumbuhkan dan mengembangkan jiwa kepemimpinan
8.      Meningkatkan tertib administrasi dalam rangka tertib organisasi




IMM Soedirman UNSOED

*Catatan:
1.      Seperti yang dirumuskan dalam AD IMM, tujuan didirikannya IMM adalah: “Mengusahakan terbentuknya akademisi muslim yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”.

2.      AD Muhammadiyah BAB III Pasal 6:
Maksud dan Tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Kamis, 15 Juni 2017

Apa Kabar Kamu Sayang di Sana?


Ngomong-ngomong soal jodoh, kemarin (13/6) tadinya ngobrol kebaikan-kebaikan silaturahim dan ngalor ngidul lainnya (obrolan ringan bermanfaat J) temanku tiba-tiba bahas jodoh, ya aku belum pengalaman –baru sering ikut kajian & diskusinya, hehe sering..buat bekal-. Temanku ini beda 10 tahun denganku dan sudah berkeluarga pula. Tentu dia laki-laki dong...:D kebetulan dia punya saudara yang mau nikah dan saudaranya teman seangkatanku, terus dia nanya ke aku kapan rencana nikah?, aku jawab antara umur sekian dan sekian, aku menyebut rentang usia yang menurutku ideal. Terus nanya lagi, sudah punya pandangan/calon?, “Aku masih betah sendiri, jadi belum” jawabku. Lanjutku, “Ya nanti kalau aku udah siap & nyari insyaAllah pasti bakal ketemu juga jodohku itu”.

Dia pun cerita kisah cinta pengalaman pribadi. Baginya rasa cinta itu mulia tak sekedar suka lawan jenis tapi bagaimana kita bisa saling melengkapi dengan pasangan, termasuk saling melengkapi dalam amar ma’ruf nahi munkar. Dia pernah menjalin komitmen dengan kakak kelasku untuk menikah tapi gagal juga, malah dia menikah dengan wanita yang akrabnya baru sekitar sebulan, sebelumnya sebatas kenal di organisasi yang sama. Jadi dia menikah tanpa proses pacaran. Prosesnya dia kenal di organisasi yang sama dengan istrinya itu, kemudian si perempuan mengundang dia ke rumahnya. Saat di undang itu ternya si perempuan mengundang keluarga besar, disitulah ditanyakan oleh pihak perempuan terkait kesiapan temanku untuk menikah. Ditawarkan menikah sebulan lagi, temanku jawab siap. Temanku kemudian menyampaikan ke orangtua kalau dia mau menikah dan sekitar 3 minggu lagi akan ada tamu datang dari pihak perempuan. Singkat cerita sekitar sebulan setelah dia diundang pihak perempuan, dilaksanakanlah pernikah. Alhamdulillaah keluarga kecilnya bahagia dan sudah dikaruniai 1 putra usia 4 tahun dan 1 putri usia sekitar sebulan.

Sebaris lirik lagu Apa Kabar Sayang punya Armada, “Apa kabar kamu sayang di sana?”. Saat mendengar syair tersebut dengan gaya khas Armada membawanya tentu ya jadi enak didengar, terlintas di fikiran ini “Apa kabar jodohku disana? yang aku sendiri belum tau siapa bidadari yang Allah kirimkan untukku itu J”. Aku yakin dia tak jauh berbeda dengan aku karena Allah sudah memaklumkan yang baik untuk yang baik, yang buruk untuk yang buruk. Mudah-mudahan aku termasuk orang yang baik dan Teman-teman yang baca juga mudah-mudahan termasuk hamba yang baik di hadapan Allah Ta’ala. Aamiin ya rabbal ‘aalaamiin.


Purwokerto, 19 Ramadhan 1438 H / 14 Juni 2017 M

Khusu’ saat Makan Sungguh Nikmat, Apalagi saat Sholat !


Rabu kemarin puasa ke 12 tahun 1438 H tepat 7 Juni 2017 M entah keberapa kali aku buka puasa di Masjid 17, tempat favoritku Ramadhan tahun ini di Purwokerto. Karena selain banyak kajian dan ada buka bersama selama Ramadhan di masjid ini, bagiku imamnya istimewa bacaannya apalagi punya nama sama sepertiku, Nursekha J. Teman-temanku pun banyak yang ke masjid ini.
Aku dkk sering buka bareng alias bukber di Masjid 17 meski tak pernah bikin janji dan berangkat pun tak bareng karena beda kost bahkan beda kampus. Biasanya setengah jam jelang maghrib ada kajian, kemudian saat masuk maghrib kami mengawali buka dengan minum dan makan kurma/manisan di shof paling belakang yang digelar karpet plastik khusus untuk tempat duduk saat makan. Dilanjut wudlu dan sholat maghrib. Setelah sholat maghrib, shof paling kanan membagikan makan besar alias nasi box secara estafet ke jamaah di sebelah kirinya.
Biasanya aku dkk menggerombol untuk makan bersama. Rabu (7/6) itu berbeda, teman-teman tetap menggerombol dan aku secara refleks duduk di pojokan di bekang jama’ah yang lain tidak bergabung dengan teman-teman untuk makan. Selesai makan, salah satu teman menanyakan ihwal kenapa aku saat makan tadi menyendiri, “supaya khusu’ ” jawabku. Sebenarnya aku tak mempermasalahkan makan bersama, tapi saat itu aku ingin –khusu’- saat makan berbuka. Saat makan bersama pun khusu’ makan bisa dicapai. Sungguh nikmat khusu’ saat makan apalagi khusu’ saat sholat, aku menarik nafas dan mengucap Allahu akbar. Semoga sholat kita khusu’ dan diterima Allah Ta’ala.
Purwokerto, 19 Ramadhan 1438 H / 14 Juni 2017 M


Sabtu, 05 November 2016

4 November 2016: Haq itu Haq, Bathil itu Bathil


Allahu akbar !!
Allahu akbar !!
Allahu akbar !!

Katakan haq, pada yang haq !!
Katakan bathil, untuk yang bathil !!

Jika nama kita dihina,
Kita pasti tak terima.
Jika Al-Qur’an dihina,
Kita wajib membela.
            Setuju !!

Jika rakyat bersalah,
dia mendapat hukum.
Gubernur adalah dari rakyat,
Jika ia melanggar hukum,
maka layak dihukum.
            Setuju !!

Penista presiden,
dia dihukum dengan tegas,
maka penista agama,
layak dihukum dengan tegas.
            Setuju !!

Hukum adalah hukum,
Tak memandang siapa dia,
Keadilan harus ditegakkan !!

Allahu akbar !!

Purwokerto, pagi Jum’at Pon
4 Shafar 1438 H / 4 November 2016 M


Viqi Nursekha

Peserta Aksi Damai Bela Islam FUI Banyumas

Negeriku Darurat, Perasaanku atau Fakta ?!


Tulisan ini bukan bermaksud menghujat atau menjatuhkan seseorang maupun kelompok,
Saya menulis murni karena kekecewaan dan kekhawatiran yang lama terpendam.

Ya Allah Sang Mahakuasa,,
Aku merasa tak punya presiden
Aku merasa wapres entah siapa
Aku tak kenal ketua KPK
Aku merasa khawatir dengan negeriku
Aku sedih dengan keadaan negeriku


Semua itu berawal saat Pak Yudhoyono purna menjadi presiden,
Saat yang menjadi penguasa karena kaya
Kemudian ditambah ketika Bang Abraham Samad berhenti menjadi ketua KPK,
Ditambah kasus sianida yang rancu,
Ditambah penista agama dan yang suka mucu-mucu (bahasa jawa) adalah provinsi satu

Aku tak percaya dengan pemimpin yang ngakunya jakwir, tapi ditemui rakyatnya, kabur-ngacir !!
Aku tak percaya dengan pemimpin yang busuk !!
Apalagi sudah busuk tetap tenar, diagung-agungkan namanya alias namanya tetap bercahaya bak purnama di hati para pengagumnya yang buta, pendek kata busuk cahaya purnama.
Aku sedih, geram, marah, kecewa !!

Ya Allah jika ini memang karena hatiku yang buta,
Ampunilah aku,
Tujukilah aku jalan lurus-Mu,
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat,
Bukan jalan yang Engkau murkai dan
Bukan pula jalan mereka yang sesat.

Ya Allah jika ini memang fakta,
Lindungilah hamba-hambaMu yang beriman,
Jadikanlah orang yang menegakkan syari’atMu pemimpin kami.

Saat ini saya tak percaya dengan penguasa,
Untuk itu agar saya tetap bisa mengabdi pada masyarakat dan negeri,
saya bergabung dengan ormas yang jelas asal-usulnya, jelas cara geraknya, dan jelas tujuannya.
Silakan,
Tetap lakukan yang terbaik jika Anda memang merasa kecewa maupun tak percaya dengan penguasa.

Jelang Maghrib di Purwokerto
Sabtu Wage, 5 Shafar 1438 H
5 November 2016 M

Viqi Nursekha

Pemuda dari rakyat biasa

Kamis, 02 Juni 2016

Ki Bagus Hadikusuma 

Pahlawan perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia ini dilahirkan di kampung Kauman Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Akhir 1038 Hijriyah. Ia putra ketiga dari lima bersaudara Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta. Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di Kauman. Setelah tamat dari ‘Sekolah Ongko Loro’ (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqh dan tasawuf.
Dalam usia 20 tahun Ki Bagus menikah dengan Siti Fatmah (putri Raden Haji Suhud) dan memperoleh enam anak. Salah seorang di antaranya ialah Djarnawi Hadikusumo, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi orang nomor satu di Parmusi. Setelah Fatmah meninggal, ia menikah lagi dengan seorang wanita pengusaha dari Yogyakarta bernama Mursilah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Ki Bagus kemudian menikah lagi dengan Siti Fatimah (juga seorang pengusaha) setelah istri keduanya meninggal. Dari istri ketiga ini ia memperoleh lima anak.
Sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD) ditambah mengaji dan besar di pesantren. Namun, berkat kerajinan dan ketekunan mempelajari kitab-kitab terkenal akhirnya ia menjadi orang alim, mubaligh dan pemimpin ummat. Ia merupakan pemimpin Muhammadiyah yang besar andilnya dalam penyusunan Muqadimah UUD 1945, karena ia termasuk anggota Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia (PPKI). Peran Ki Bagus sangat besar dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu disetujui oleh semua anggota PPKI.
Secara formal, selain kegiatan tabligh, Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP Muham­madiyah (1942-1953). Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan sedemikian rupa sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, pokok-pokok pikiran itu menjadi Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Muqaddimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini menginspirasi sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya. HAMKA, misalnya, mendapatkan inspirasi dari muqaddimah tersebut untuk merumuskan dua landasan idiil Muhammadiyah, yaitu Matan Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.
Ki Bagus juga sangat produktif dalam menuliskan buah pikirannya. Buku karyanya antara lain Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam(1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954). Dari buku-buku karyanya tersebut tercer­min komitmennya terhadap etika dan bahkan juga syariat Islam. Dari komitmen tersebut, Ki Bagus adalah termasuk seorang tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk pelembagaan Islam.
   Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alasan-alasan ideologi, politis, dan juga intelektual. Ini nampak dalam upayanya memperkokoh eksistensi hukum Islam di Indonesia ketika ia dan beberapa ulama lainnya terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama (priesterraden commisse). Hasil penting sidang-sidang komisi ini ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum Islam. Akan tetapi Ki Bagus dikecewakan oleh sikap politik pemerintah kolonial yang didukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan seluruh keputusan penting tentang diberlakukannya hukum Islam untuk kemudian diganti dengan hukum adat melalui penetapan Ordonansi 1931. Kekecewaannya itu ia ungkap kembali saat menyampaikan pidato di depan Sidang BPUKPKI.
   Munculnya Ki Bagus Hadikusumo sebagai Ketua PB Muhammadiyah adalah pada saat terjadi pergo­lakan politik internasional, yaitu pecahnya perang dunia II. Kendati Ki Bagus Hadikusuma menyatakan ketidaksediaannya sebagai Wakil Ketua PB Muham­madiyah ketika diminta oleh Mas Mansur pada Kongres ke-26 tahun 1937 di Yogyakarta, ia tetap tidak bisa mengelak memenuhi panggilan tugas untuk menjadi Ketua PB Muhammadiyah ketika Mas Mansur dipaksa menjadi anggota pengurus Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di Jakarta pada tahun 1942. Apalagi dalam situasi di bawah penjajahan Jepang, Muhammadyah memerlukan tokoh kuat dan patriotik. Ki Bagus Hadikusumo berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam, untuk memerintahkan ummat Islam dan warga Muhammadiyah melakukan upacara kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari.
   Ki Bagus Hadikusumo menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah selama 11 tahun (1942-1953) dan wafat pada usia 64 tahun. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.


sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/content-160-det-ki-bagus-hadikusuma.html

Jumat, 20 Mei 2016

Senandung Muktamar XVII IMM (Mars Muktamar IMM)

Di bawah langit bumi pertiwi
Merekah mawar menyambut mentari
Untuk mengabdi padamu negeri
Setiaku tak bertepi
Ikatan Mahasiswa Muhammmadiyah
Bersamamu ku rangkai masa depan
Langkah tegak penuh harapan
Ikhlas hati mengemban dakwah perserikatan
Untuk Indonesia berkemajuan

Denganmu ku pilih jalan berjuang
Ikhlas berkorban untuk agama
Demi tegaknya Islam yang rahmat
Bersamamu ku pantang menyerah

Tekad bulat ku semai di dada
Teguh jiwaku dalam berdakwah
Untuk meluruskan kiblat bangsa
Bersamamu ku pantang menyerah 2x


Kamis Wage, 12 Rajab 1437 H / 19 Mei 2016 M
@Karangwangkal

Selasa, 17 Mei 2016

Kader IMM UNSOED Juara Penulisan Nasional


SELAMAT
kepada
Immawan Uci Febrian
(Bidang Keilmuan IMM Soedirman UNSOED 2015-2016)
sebagai
Juara 1 Penulisan GEMAR "Gerakan Menutup Aurat"
MuslimDaily.Net dan UKKI UNSOED 2016

Pelatihan Jurnalistik dan Penulisan MuslimDaily.Net dan UKKI UNSOED 2016


Jodoh? Jangan Khawatir... Jodoh Bukan Siapa Cepat Dia Dapat


Hay... Para Single,
Kalian semua luar biasa....
Bagaimana kabar nich? Saya harap kalian tidak merasa galau, ketinggalan atau minder karena nggak punya pacar atau someone. PeDe aja kali,,, nikmati harimu, manfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar, berkarir dan berkarya, juga untuk beribadah semaksimal mungkin, karena remaja yang hatinya terpaut dengan masjid (ibadahnya bagus-pen) akan mendapat naungan Allah Sang Rabb Mahacinta saat nanti tidak ada naungan selain dari-Nya. Pengin donk pastinya.

Ngomong-ngomong jodoh nich, ehm ehm.. kamu lagi suka sama si dia, kamu lagi naksir si doi, kalau belum siap untuk membina rumah tangga, nggak perlu galau-galau, fokus saja pada kuliahmu sekarang, fokus saja pada karirmu sekarang. Lah kalau nggak diungkapkan sekarang, nanti direbut orang, nanti keduluan yang lain donk, nanti... dan bla-bla-bla-bla. Tenang.., jemput jodohmu dengan persiapan dirimu, terutama benahi agama dan akhlakmu. Allah sudah menjanjikan yang baik jodohnya yang baik, yang keji dengan yang keji (lihat QS. An-Nur: 26). Kalau kamu baik pasti jodohmu yang baik, kalau kamu biasa-biasa saja jodohmu juga yang biasa-biasa saja.

So, pantaskan dirimu untuk berjodoh dengannya, dengan yang baik (agamanya-pen). Karena Jodoh Bukan Siapa Cepat Dia Dapat tapi Siapa Pantas Dia Tepat.




Senin Manis di Karangwangkal,
9 Rajab 1437 H / 16 Mei 2016
Viqi Nursekha


Tag: Jodoh, Remaja, Pacaran dilarang, An-Nur:26

JATUH CINTA = JATUH dari POHON KELAPA


Hai... sahabat!!!:-)
Gimana puasa’y??? Lancarkan..?! mudah2n puasa ini membekaskan ketaqwaan dlm diri qT, aamiin...
Sahabat pEsbukerS,, wabil kHusus yg lg Falling in lJve.
Langsung aja ya.. q dPt wejangan dr Pak Guru kalo
“Jatuh Cinta = Jatuh dari Pohon Kelapa” au!! Sakit. T_T) J
Yaya.. kaLo qT Jatuh dr pohon kLapa kan sakit tuh, meski awalnya qT senEng cZ mau dpt ‘dawegan’.
begitupuN kLo qT jatuh cinta, memAng awalnya qT senen9 tP kLo ditolak or oRang yaN9 qT inceR terNyata ng9a ngrasain yg qT rasa/si-dia ngga cinta sama qT atau udah ada yg lain di hatinya..
gimana tuh? (hmm..dipanggiLin dokter cinta apa yah ???)
Ok, biar qT ngga sakit kayak jatuh daRi pohoN keLapa tenTunya qT haruS bisa menyikapinya.
Jatuh cinta haruS tepat, jan9an haNya cimon,, cZ yang boLeh cimon yaa.. cuma simon. do You agRee ??? Hehe,,
boLeh lah qT jatuh cintA sama Lawan jENis, itu normal kok.
taPi kaLo qT belum siap jan9an brani-braNinya nembak saat itu ju9a.
Sabaar... tung9u waktu y9 tepat, qt minta petunjuk AllAh Ta’ala.
Jan9an khawatir kaLo qT ngga nembak sekaran9 “jangan-jangan ada yg duluan” .
Yakinlah janji AllAh,, Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula, begitu juga seBaliknya. (s0Rry jadinya ceramah J )
oK. Bagi temaN2 peLajar,, jangaN duLu main cinta. Marilah beLajar yan9 suN9guh-sungguh, cZ qT Lagi diTunggu untuk menjadi kholifah/pemimpin yan9 biSa meMbawa dunia menjadi lebih baik, baldatun Thoyyibatun wa Rabbun ghafur.
Mudah-mudahan berManfaat. Maturnuwun J
wasSalaamu’alaikum..


Kretek, Ramadhan 1434 H (2012 M)
Viqi Nursekha



Tag: Jatuh Cinta, Remaja, Cimon, Cinta Monyet, cinta SMA, anak SMA, nembak

“ Wow!! Pelatihan Jurnalistik “


“Tuan, sebutir pelurumu yang nanti menembus kepalaku hanya akan membunuhku. Tapi tulisan dan buah pikiranku akan menembus ratusan, ribuan, jutaan kepala orang,” Sayyid Quthb.
Menulis-publikasi, menulis-publikasi itulah hobi baru yang saya coba lakukan akhir-akhir ini. Menulis artikel ilmiah, essay atau sekedar opini-opini ringan, semuanya saya lakukan mengalir begitu saja, entah itu sesuai pakem kepenulisan atau tidak. Kemudian saya coba publikasikan di majalah, jurnal kampus, blog saya ataupun hanya sekedar untuk update status di media sosial, intinya yang penting dipublikasikan. Harapannya sih tulisan saya bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk yang membacanya.
Sampai pada dluha Jum’at, 29 April 2016 seperti biasa sebelum sholat dluha di mushola FMIPA UNSOED tempat nongkrong saya dan teman-teman Jurusan Matematika angkatan 2013, saya membaca papan informasi (pansi) di mushola itu. “Wow!! Alhamdulillaah, Pelatihan Jurnalistik dan Penulisan,” ucapku spontan, pamflet di pansi tersebut tertera tanggal pendaftaran sampai 30 April 2016, “Wah.. besok dong,” ujarku dalam hati. Pelatihan tersebut kerjasama UKKI UNSOED dan MuslimDaily.net . Selain mengisi formulir pendaftaran, saya sebagai calon peserta diminta mengirimkan sebuah tulisan tentang jurnalistik atau penulisan. Hari itu saya pulang malam dari kampus, karena ada agenda UKM, tak sempatlah saya mendaftar pelatihan tersebut. Sampai sebelum tidur, saya masih merencanakan untuk ikut pelatihan tersebut.
Sabtu keesokan harinya alhamdulillaah saya sempat mendaftar dengan mengisi formulir online dan mengirim sebuah tulisan yang saya beri judul “Tulisan Media Massa, Merubah Kehidupan Kita”, dengan harapan saya bisa lolos sebagai peserta, karena saya ingin sekali menjadi penulis yang baik dan bermanfaat. Pengumuman peserta yang lolos dijadwalkan Ahad, 8 Mei, tapi sampai tanggal 10 Mei pagi belum ada kabar peserta yang lolos, yang setahu saya pengumuman akan melalui whatsapp. Saya hari itu kuliah dan aktivitas di kampus seperti biasa, maghrib saya pulang ke kost, menjelang Isya saya buka tablet , langsung banyak pesan masuk, salah satunya pesan dari grup whatsapp yang sebelumnya saya belum tergabung, grup baruku “Pelatihan Jurnalistik dan Penulisan MD.Net”, saya baca pengumuman di grup tersebut, alhamdulillaah saya lolos menjadi peserta pelatihan.
Selang dua hari setelah pengumuman, ba’da ashar Kamisnya technical meeting (TM) di Masjid Nurul Ulum, masjid kampusku. Ternyata pelatihan ini menginap dan dimulai Jum’at pagi, saya niatkan ikut pelatihan ini sampai akhir meski saya ingin sekali datang ke Mata Najwa di alun-alun Purwokerto, tiket pun sudah ditangan, saya batalkan datang ke Mata Najwa karena acaranya berbenturan dengan pelatihan. Saya yakin, pasti akan mendapatkan manfaat yang lebih dengan mengikuti pelatihan kepenulisan ini.
Jum’at, 13 Mei jam 10 pagi saya tiba di Gedung Serba Guna Masjid Fatimatuzzahra (GSG Mafaza) tempat pelatihan jurnalistik dan penulisan, waktu itu masih pembukaan dan sedang sambutan dari pihak Mafaza, saya datang sedikit terlambat karena kuliah dulu, dan memang panitia memberikan kelonggaran untuk hari pertama. Sambutan usai, materi pertamapun dimulai, dengan pembicara Ustadz Burhan Sodiq, penulis nasional yang saya kagumi. Meski materi pertama dibagi tiga sesi, sebelum dluhur, ba’da dluhur dan ba’da ashar rasanya asyik, baik materi maupun cara penyampaiannya. Materi pertama sudah membuka dan menambah wawasan baru tentang penulisan, membuat saya semakin yakin pasti banyak manfaat dan harapan saya bisa tercapai, menjadi penulis yang menginspirasi kebaikan untuk pembacanya.
“Jika saya menjadi guru, hanya 40 anak yang akan mendengar omongan saya. Tapi, jika saya menjadi wartawan (penulis-pen), ada ribuan orang yang akan membaca tulisan saya,” Parni Hardi.

by Viqi Nursekha
7 Rajab 1437 H
14 Mei 2016 M



Tag: Jurnalistik Muslim, Wartawan Muslim, Muslimdaily.net, UKKI UNSOED, Pelatihan Jurnalistik dan Penulisan, Abdillah Onim, Berita Palestina Terkini, Burhan Sodiq, Ya Allah Aku Jatuh Cinta, Zulfikri, Parni Hardi Republika, Sayyid Quthb, IMM UNSOED

Modal Nekat, Guru Honorer Ini Mendaftar Calon Wali Kota

Contoh Hardnews


viqinews.com, Brebes – Prihatin terhadap nasib guru honorer, Ibnu Fulan, dengan semangat mengikuti tes seleksi bakal calon kepala daerah Brebes, Jawa Tengah, di kantor Partai Pro Rakyat (PPR) Jawa Tengah, di Semarang. “Saya, 13 Mei 2016 baru saja ikut tes di Semarang,” tuturnya, Sabtu, 14 Mei 2016.
Guru honorer bergaji Rp 400 ribu per bulan itu berangkat ke Semarang naik kereta dari Stasiun Bumiayu. Bersama calon wali kota dan wakil wali kota lainnya.
Fulan prihatin terhadap kondisi guru honorer. Jika terpilih, ia bertekad menyejahterakan guru yang senasib dengannya. “Gaji guru honorer tidak sebanding dengan pengabdian mereka,” ujarnya.
Keinginan warga Kelurahan Bulanayu, Brebes ini tak sepenuhnya mulus. Fulan ditegur kepala sekolah di tempat ia mengajar karena tidak minta izin. “Kalau minta izin malah tidak boleh,” katanya. Kini dia sedang menunggu hasil seleksi. Dia berharap, surat rekomendasi dari PPR jatuh ke tangannya.

VIQI NURSEKHA
6 Rajab 1437 H / 13 Mei 2016 M


Tag: Bakal Calon Bupati Brebes, Guru Honorer

Senin, 09 Mei 2016

Desa adalah kaki bagi negara: Indonesia berdikari, Lingkungan dan alam tetap lestari



Bismillaahir rahmaanir rahiim
Assalaamu’alaykum Wr. Wb.,
Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua,
 
Yang saya hormati dan saya banggakan para hadir dan seluruh rekan muda Indonesia.
Alhamdulillaah Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Alam Semesta yang telah menempatkan kita di negeri yang “Gemah ripah loh jinawi”, Indonesia.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada nabi Muhammad SAW, sang pemimpin sejati yang telah mendobrak benteng-benteng kejahiliyahan dan mendirikan zaman peradaban yang madani, sang edukator sejati yang telah mengajarkan kepada kita bahwa hidup adalah kebermanfaatan.
Pada kesempatan yang istimewa ini, saya akan menyampaikan pidato dengan tema “Indonesia berdikari, Lingkungan dan alam tetap lestari”

Hadirin yang saya hormati,
Kita dan warga dunia tentu sepakat bahwa Indonesia adalah sebuah negeri yang begitu Indah,
Jumlah keindahan Indonesia tidak bisa diterjemahkan dengan angka, bahkan oleh matematikawan Phytagoras sekalipun. Keindahan Indonesia terbentang luas dari Gunung Peutsagu di Aceh sampai Pegunungan Jaya Wijaya di Papua. Indonesia bertaburan 17.500 lebih pulau bak bintang bertaburan di langit malam yang indah. Pulau-pulau indah Indonesia dikelilingi oleh laut yang begitu kaya dengan sumber daya alam. Letak Indonesiapun sangat strategis selain berada di khatulistiwa sehingga sangat produktif untuk pertanian, peternakan dan perikanan baik di darat maupun di lautan, Indonesia juga diapit 2 samudera luas Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, diapit 2 Benua: Benua Asia dan Benua Australia. Kekayaan Indonesia juga tercermin dari keberagaman suku bangsanya yang lebih dari 1130 suku bangsa beserta dengan keanekaragaman budaya, adat, flora dan faunanya.

Saudara-saudara yang saya hormati,
Pada tahun 2010 Badan Pusat Statistik telah melakukan sensus penduduk dan hasilnya jumlah penduduk Indonesia mencapai 237.641.326 jiwa terbanyak ke-4 di dunia setelah China, India dan Amerika dan pada tahun 2025 diperkirakan Penduduk Indonesia berkembang menjadi 273,7 juta jiwa. Namun dari jumlah penduduk yang besar tersebut penyebarannya tidak merata dan SDM masih belum mampu untuk mengolah, mengatur dan memanfaatkan sebanyak-banyak dan sebaik-baiknya untuk Indonesia berdikari.
Tapi kita tentu bertanya-tanya kenapa Indonesia masih tertinggal dari China, India dan Amerika dalam hal ekonomi, pendidikan, teknologi dan sebagainya meskipun jumlah penduduk mereka lebih banyak dibanding Indonesia. Teknologi China, India dan Amerika telah lebih mutakhir dan bahkan bisa untuk menguasai pasar dunia.
Lalu, apakah pendidikan Indonesia juga harus meniru pendidikan Amerika?!
Kita harus katakan tidak!! Karena Indonesia adalah negara yang kaya raya sumber daya alamnya, tongkat ditancapkanpun akan berbuah. Jika kekayaan Indonesia dikelola dengan baik maka Indonesia akan menjadi Indonesia yang berdikari.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Menurut data Kementerian Dalam Negeri Indonesia tahun 2013 terdapat 72.944 wilayah administrasi desa. Desa dan penduduknya banyak tapi Indonesia belum berdikari bahkan alamnya banyak yang rusak, oleh karena itu maka Pendidikan Indonesia harus berdasarkan dengan kearifan lokalnya, yaitu Pendidikan yang mengajarkan pemanfaatan potensi lokal dan cara melestarikannya.
Hasil kajian Puslitbang BKKBN 2011 menunjukkan bahwa dari 23.902.077 jiwa penduduk kelompok umur 19-24 tahun hanya 0,66 persen tamat Diploma IV/Perguruan Tinggi. Dari total jumlah remaja yang ada persentase buta huruf remaja laki-laki 0,8 persen, dua kali lebih besar dibandingkan penduduk remaja perempuan 0,44 persen yang buta huruf.
Berdasarkan data Sensus Penduduk 2010, Jumlah angkatan kerja sebanyak 172.070.339 jiwa, 66,06 persen diantaranya adalah remaja usia 15-24 tahun, jumlah tersebut menunjukkan bahwa penduduk remaja cukup besar yang termasuk dalam angkatan kerja yang perlu ditingkatkan kualitasnya agar dapat benar-benar sebagai aset pembangunan yang potensial.

Hadirin yang saya hormati,
Dengan Indonesia memiliki jumlah desa yang besar serta berada di wilayah yang strategis dan menguntungkan tentu Indonesia harus menjadi negara yang makmur dan berdikari yaitu negara yang mampu mengolah dan memanfaatkan Sumber Daya Manusia dan Alamnya sebaik mungkin untuk kemajuan dan kemakmuran bangsanya. Lalu, bagaimana caranya?!
Moh. Yamin pernah mengatakan bahwa : “Desa adalah ibarat kaki bagi negara, jika kaki lumpuh maka tubuh dan kepala tidak akan maksimal”

Oleh karena itu Pemudi-Pemuda Indonesia harus turut berperan dengan menjadi generasi yang terdidik terutama melalui pendidikan formal, kemudian kembali ke desa, membangun desa dan melestarikan alamnya. Jika hal tersebut terjadi maka kaki-kaki Indonesia yaitu Desa terbangun, maju dan alamnya lestari sehingga Indonesia tidak pincang lagi dan siap berdikari tanpa melupakan kelestariaan alamya bahkan laut Indonesia menjadi kolam susu dunia, ladang Indonesia menjadi sumber ternak dan sumber pertanian dunia, hutan Indonesia kembali menjadi nafas dunia.

Hadirin yang saya hormati,
1 abad Indonesia di depan mata,
1 abad Indonesia 2045 harus menjadi perayaan Indonesia Maju dan Berdikari.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Sebagai generasi muda bangsa penerus dan penyempurna estafet kepemimpinan masa depan, kita harus mempersiapkan diri dengan pendidikan yang berbasis kearifan lokal yaitu pendidikan yang mengajarkan pemanfaatan potensi lokal dan cara melestarikannya. Setelah itu kita turut serta membangun desa, membangun kaki negara.
Saat ini dan yang akan datang adalah jatah kita mengukir prasasti emas Kemajuan Indonesia Kemajuan bangsa kita, menjadikan Indonesia bangsa yang berdikari dan alam tetap lestari.
Jangan berfikir apa yang diberikan negara untukmu, tapi berupayalah apa yang kau berikan untuk negeri ini. Maju Terus Pantang Menyerah!! 
terima kasih.
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

Viqi Nursekha
Postingan Lama Beranda

About Me

Foto Saya
Bimbel Matematika, Pendampingan ABK, Psikologi Islam, Panahan, Seminar Pendidikan, dan Outbond silakan tinggalkan komentar atau DM di IG @viqinursekha , Youtube: Mas Viqi , Facebook Viqi Nur Sekha
 

Blog Archive

Entri Populer

 

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger