Sejarah dan
Identitas Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED
Sebagai sebuah organisasi yang selalu berusaha mempelopori gerakan-gerakan
organisasi kepemudaan yang lain, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) selalu berpijak
pada sebuah sejarah yang membuat IMM ini lahir, sebuah sejarah yang seharusnya
selalu menjadi cambuk ketika para kader Ikatan sudah mulai kehilangan
kepeloporannya.
Sebuah identitas yang bisa membedakan IMM dari organisasi-organisasi lain
di saat organisasi-organisasi kepemudaan yang lain mulai terperosok pada jerat
kekuasaan dan politik vertikal, IMM tetap bersih dan selalu berusaha bersih.
Sejarah Singkat
Berdirinya IMM di UNSOED
Pada tahun 1992 sebagian Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED mulai merintis
berdirinya IMM di kampusnya ini. Pada dasarnya IMM didirikan atas dua faktor
integral, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal bersumber dari
kondisi Mahasiswa Muhammadiyah sendiri yaitu belum adanya wadah khusus di
kampus untuk berproses dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan aspek
eksternal disebabkan kondisi di luar Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu realitas Mahasiswa
Islam dan Mahasiswa UNSOED pada umumnya pada saat itu.
IMM UNSOED,
Muhammadiyah dan Ortom
IMM merupakan kekuatan besar dalam setiap momentum di kampus dan sekitarnya,
namun saat awal berdiri IMM di UNSOED dapat dikatakan berjalan sendiri tanpa
dukungan dari Muhammadiyah maupun ortom. Tahun 2010-an IMM UNSOED mencoba
berkomunikasi dengan Civitas Akademika UNSOED yang berlatar belakang
Muhammadiyah, PRM & PCM di Purwokerto Utara, PDM serta Ortom. Hingga bisa
melaksanakan Silaturahim sekaligus Tabligh Akbar yang pertama pada 2012 dengan
pembicara Ayahanda Dahlan Rais (PPM), dilanjut 2013 Ayahanda Abdul Mu’thi (PPM), 2014 Prof. Totok Agung (Ketua LPPM UNSOED dari Muhammadiyah), kemudian 2016 Ayahanda Tafsir (Ketua PWM Jawa Tengah) dan tahun ini 2017 Ayahanda Asep Ketua Majelis Pendidikan Kader PPM. Setelah
agenda tersebut, IMM UNSOED lebih dikenal baik di kampus maupun di luar kampus
khususnya oleh Muhammadiyah dan Ortom.
Sampai 2017 tercatat ada lebih dari 100 Mahasiswa Muhammadiyah di UNSOED,
dan dari dosen serta karyawan tercatat lebih dari 40 orang. Dengan jumlah yang
cukup banyak perlu sinergisitas untuk dakwah amar ma’ruf nahi munkar, sehingga
acara silaturahim dan tabligh akbar menjadi momentum yang sangat penting.
Pada Jum’at Manis, 6 Rabiul Awwal 1437 H bertepatan 18 Desember 2015 M melalui rapat pleno ditetapkan Visi dan Misi IMM Soedirman
VISI
IMM Soedirman: Berkarakter Profetik, Berkualitas dan Progresif untuk Mencapai
Tujuan IMM*.
MISI
1. Reaktualisasi nilai-nilai keislaman sebagai sendi
kehidupan.
2. Meningkatkan kualitas kinerja yang harmonis dan
menumbuhkan kesadaran berjuang dengan semangat pengabdian dan pembaharuan.
3. Menciptakan iklim budaya keilmuan dalam bingkai kearifan
lokal.
4. Turut berperan aktif dan kritis terhadap masalah sosial
masyarakat serta secara proaktif senantiasa mengambil peran strategis.
5. Memfasilitasi pengembangan minat dan bakat.
6. Mengenalkan dan mengembangkan jiwa berwirausaha sebagai
modal awal hidup mandiri.
7. Menumbuhkan dan mengembangkan jiwa kepemimpinan
8. Meningkatkan tertib administrasi dalam rangka tertib
organisasi
*Catatan:
1.
Seperti yang dirumuskan dalam AD
IMM, tujuan didirikannya IMM adalah: “Mengusahakan
terbentuknya akademisi muslim yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan
Muhammadiyah”.
2.
AD Muhammadiyah
BAB III Pasal 6:
Maksud dan Tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama
Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.