“Berbudaya
pun mesti dengan keadaban mulia dan tidak berperangai serba boleh (1). Agama
harus menjadi pembeda dalam menampilkan perilaku uswah hasanah yang melahirkan
peradaban mulia (2). Itulah beragama yang mencerahkan !”, penutup tulisan Dr.
Haedar Nashir*) yang bertajuk “Agama Sumber Pencerahan”**)
Ketika
kita melaksanakan (1) kadang ada yang menganggap kita kaku, meski itu tidak
sepenuhnya benar tapi kita tetap harus muhasabah diri karena boleh jadi orang
yang berinteraksi dengan kita belum paham dengan yang diyakini dan diamalkan
kita. Tak perlu marah-marah apalagi sampai mendzolimi orang yang menganggap
kita kaku, nasihatilah ia dan jika ia menasihati kita, terimalah, bukankah
salah satu orang yang beruntung adalah yang istiqomah dalam nasihat-menasihati
(lihat QS. Al ‘Ashr).
Tentu
sebagai umat beragama kita setuju dengan (2), setiap langkah kita tentu berbeda
karena orientasi kita adalah ridho Allah Ta’ala. Khoir (baik menurut Allah) serta ma’ruf (baik menurut kebiasaan) menjadi dasar kita dalam bersikap
dan menampilkan perilaku uswah hasanah / memberikan keteladanan dengan
mengutamakan ridho Allah.
Pernah
saya mendapat cerita, jika helm tidak pas dengan kepala kita maka yang
diperbaiki bukan ukuran kepala kita tetapi ukuran helm tersebut, jika ada
syari’at Islam yang menurut kita tidak sesuai maka jangan rubah syari’at itu
tetapi perbaikilah penafsiran kita terhadap syari’at tersebut. Karena Islam
adalah rahmat untuk seluruh alam, Islam itu mudah, Islam agama pencerahan,
tinggal bagaimana kita dalam berislam. Semoga kita istiqomah dalam menjalankan
Islam, Allah hujamkan iman yang kokoh di qolbu
dan semoga ridho Allah selalu atas kita.
*)Ketua
Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
**)dalam
republika.co.id




0 komentar:
Posting Komentar